Saturday, March 13, 2010

Pelaksanaan Kurikulum Berbasis kompetensi (KBK) dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam (PAI)

ABSTRAKSI

Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat penting dalam kehidupan baik dalam kehidupan dalam keluarga atau bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kondisi pendidikannya. Di Indonesia telah berusaha meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenjang pendidikan tetapi usaha tersebut masih banyak mengalami kendala, terutama dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Madrasah. Peningkatan mutu pendidikan di madrasah sangat terkait dengan upaya perbaikan. Perbaikan tersebut dilakukan dalam bentuk pembaharuan kurikulum disesuaikan dengan perkembangan dunia Global. Seperti kurikulum 1994 yang berbasis materi diganti dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang berorientasi pada pencapaian-pencapaian kompetensi.

Mendesain kurikulum pendidikan dalam konteks kekinian memang sebuah tuntutan yang mutlak dilakukan. Berangkat dari tujuan dampak Globalisasi terhadap sendi-sendi kehidupan memeng cukup menghawatirkan bagi generasi bangsa. Kalau kurikulum pendidikan saat ini masih terhegemoni oleh paradikma lama, berarti pendidikan belum melihat kebutuhan masyarakat akan output pendidikan yang berorientasi pada siswa yang memiliki kompetensi. Salah satu lembaga pendidikan yang resah terhadap keadaan tersebut adalah MTs Surya Buana Malang. Keresahan tersebut diwujudkan melalui Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Hal ini mengantarkan peneliti yang berjudul Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam meningkatkan Mutu pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs Surya Buana Malang.

Kajian dan pembahasan skripsi ini bertujuan untuk 1. Mengetahui bagaimana Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs Surya Buana Malang.2. Faktor apa yang secara sistematis terkait dengan Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs Surya Buana Malang.Agar tujuan tersebut tercapai dengan baik dan sempurna, maka penulis atau peneliti menggunakan pendekatan literatur dan kajian empiris atau penelitihan lapangan.

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan alat analisis deskriptif kualitatif, di mana data-data yang telah dihasilkan baik secara teoritis maupun empiris disajikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat secara benar dan jelas sesuai dengan proses yang terjadi di lapangan. Selain itu, penelitihan metode kualitatif dengan jelas studi kasus ini menggunakan tiga tekhnik pengumpulan data yaitu: 1) wawancara, 2) observasi, 3) dokumentasi.

Hasil penelitihan ini menunjukkan bahwa guru PAI terus mengupayakan peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam (PAI) melalui kurikulum berbasis kompetensi(KBK). Pelaksanaan tersebut dilakukan melalui berbagai hal yang terkait dengan pengajaran, yaitu meliputi pembuatan buku mata pelajaran,pembuatan modul, evaluasi silabus, pelaksanaan balajar responsif, pembiasaan praktek ibadah, peleksanaan MGMPAI. Selain itu pelaksanaannya dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, workshop, dan seminar. Pelaksanaan tersebut ditunjang oleh program kerja waka kurikulum yanh sangat mendukung terhadap pelaksanaan KBK, serta Kepala Sekolah yang perduli terhadap kebutuhan sarana dan prasarana. Pelaksanaan dari segi sarana prasarana meliputi pembuatan bengkel belajar, penyediaan media dan fasilitas belajar yang mencukupi, penambahan buku perpustakaan. Pelaksanaan tersebut ternyata masih kurang bagi guru PAI di MTs Surya Buana Malang, untuk itu guru PAI di MTs Surya Buana Malangterus mengusahakan dan melengkapinya. Terdapat permasalahan dalam peleksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam meningkatkan mutu oleh guru PAI meliputi adanya guru PAI yang statis serta adanya jabatan guru yang tidak tetap.

Kesimpulannya adalah bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam Meningkatkan Mutu PAI dengan segala perangkat yang dibutuhkan, walaupun masih terdapat penataan dan pembaharuan mengenai kekurangan yang ada pelaksanaan tersebutakan semakin mantap dengan kerjasama masyarakat sekolah dan komotmen guru PAI untuk selalu meningkatkan kualitas dan inovasi pendidikan.


Friday, March 12, 2010

Eksistensi Kelompok Bermain Dalam Mengembangkan Keberagamaan Anak

ABSTRAKSI

Kata Kunci (Key word): Kelompok Bermain, Keberagamaan Anak.

Pendidikan agama harus diberikan sejak kecil atau ketika masa kanak-kanak, karena masa kanak-kanak sebagai salah satu tahap yang dilalui manusia sebelum menjadi dewasa memiliki potensi yang sangat penting dalam pembentukan pola kepribadian seseorang. Selain itu pendidikan yang diberikan pada masa kanak-kanak memiliki pengaruh yang sangat besar sebab pendidikan tersebut cenderung akan terbawa terus dalam proses kehidupan anak selanjutnya. Karena itu pemberian pendidikan agama harus dimulai sejak masa itu.

Permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana upaya kelompok bermain Hajjah Mariyam Batu dalam mengembangkan keberagamaan anak?, (2) Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok bermain Hajjah Mariyam dalam mengembangkan keberagamaan anak?. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui upaya yang dilakukan kelompok bermain Hajjah Mariyam dalam mengembangkan keberagamaan anak, (2) Untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok bermain Hajjah Mariyam dalam mengembangkan keberagamaan anak.

Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif, dimana data-data yang dihasilkan berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau prilaku yang dapat diamati. Sedangkan jenis penelitiannya adalah studi kasus yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif, mendalam dan komprehensip tentang latar belakang, sifat-sifat (karakter) yang khas dari suatu kasus. Untuk pengumpulan data dalam skripsi ini digunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Dan data-data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan mengunakan metode deskriptif analisis dan kajian isi.

Penelitian dilaksanakan di kelompok bermain Hajjah Mariyam Batu dikarenakan kelompok bermain ini mengunakan pola pendekatan pendidikan Islami. Disini anak diarahkan, dibimbing dan dikembangkan sikap, kepribadian, kecerdasan, dan bakatnya berdasarkan nilai-nilai yang ada pada ajaran agama Islam.

Dari penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Dalam mengembankan keberagamaan anak di kelompok bermain Hajjah Mariyam ini banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan antara lain: memberikan jadwal pemberian materi agama dan selalu menyisipkan pesan-pesan keagamaan dalam setiap kali kegiatan belajar mengajar berlangsung, Memberikan jadwal materi yang bervariasi, Selalu membiasakan anak untuk membaca doa ketika akan melakukan kegiatan, belajar doa-doa sehari-hari dan belajar surat-surat pendek, mengadakan peringatan PHBN dan PHBI, dan melakukan evaluasi atau penilaian untuk mengetahui perkembangan yang terjadi pada anak. Dari upaya-upaya yang dilakukan kelompok bermain Hajjah Mariyam ini anak didik telah banyak mengalami kemajuan dalam perkembangan keagamaannya antara lain: anak mulai mengenal dan hafal surat-surat pendek dan doa-doa kegiatan sehari-hari, bisa mengaplikasikan hasil belajarnya di kelompok bermain ketika di rumah, dan memperoleh banyak pengetahuan tentang agama di kelompok bermain, (2) faktor-faktor pendukung Kelompok Bermain Hajjah Mariyam dalam mengembangkan keberagamaan anak antara lain ada dari pihak pendidik, keluarga, teman sebaya, dan juga dari masyarakat.


Thursday, March 11, 2010

PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN PONDOK MODERN

ABSTRAKSI

Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan, diakui mempunyai andil yang cukup besar di dalam membesarkan dan mengembangkan dunia pendidikan. Pondok pesantren juga dipercaya dapat menjadi alternatif bagi pemecahan berbagai masalah pendidikan yang terjadi pada saat ini. Pondok pesantren yang ada sekarang pada umumnya telah mengalami perubahan dari dampak modernisasi. Dengan semakin beranekaragam sumber-sumber belajar baru, dan semakin tingginya dinamika komunikasi antara sistem pendidikan pondok pesantren dan sistem yang lain, maka santri dapat belajar dari banyak sumber.

Salah satu bentuk perubahan pengelolaan pondok pesantren adalah munculnya pondok pesantren modern, yang menggabungkan antara unsur-unsur pendidikan Islam tradisional yang identik dengan kitab-kitab klasik dengan pendidikan Islam modern yang menggunakan sistem dan metode yang modern. Salah satu pondok pesantren yang menggunakan sistem pendidikan pondok modern adalah PM Al-Rifa’ie yang terletak di Gondanglegi Malang. Dari sinilah penulis ingin mengadakan penelitian di PM Al-Rifa’ie dengan judul Pengembangan Sistem Pendidikan Pondok Modern Dalam Meningkatkan Profesionalisme Santri.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan sistem pendidikannya, untuk mengetahui kendala yang mempengaruhi peningkatan profesionalisme santri, untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh PM Al-Rifa’ie dalam meningkatkan profesionalisme santri

Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Dan dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan metode observasi, interview dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-data tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang diamati sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat sebenarnya.

Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis dapat disampaikan di sini bahwasanya strategi pengembangan sistem pendidikan yang dilakukan PM Al-Rifa’ie dalam meningkatkan profesionalisme santri adalah: melalui program pendidikannya yang terdiri dari pendidikan formal dan pendidikan agama, sistem organisasi yang teratur di pondok modern Al-Rifa’ie, perekrutan karyawan, program pengembangan kurikulum. Sedangkan faktor kendalanya adalah faktor tenaga pengajar, faktor santri/siswi, faktor wali santri/siswi, faktor organisasi, dan faktor lingkungan. Dan upaya yang dilakukan oleh PM Al-Rifa’ie dalam meningkatkan profesionalisme santri adalah: menyediakan fasilitas pendidikan dan fasilitas lainnya yang mendukung secara memadai, memberikan pembekalan life skill melalui kegiatan ekstrakurikuler, mengadakan diklat dan pelatihan ataupun seminar bagi semua guru baik guru formal, guru diniyah maupun guru murottil qur’an, dan pelatihan, diklat dan seminar bagi para santri.

Adapun saran yang penulis berikan untuk PM Al-Rifa’ie adalah: hendaknya memperhatikan masukan-masukan gagasan dari berbagai pihak. Keterbukaan pondok ini akan mengantarkan lembaga ini mampu berdialog dengan realitas kultural dan sosial dengan gaya yang makin luas. Upaya-upaya menyelami pembaharuan tidak lagi diukur dari norma-norma fiqhiyah yang kaku, tetapi mulai dilihat dari konteks budaya yang berkembang di sekitarnya. Harus sering melakukan studi banding atau karya wisata untuk dapat melakukan perbandingan dengan pondok pesantren yang lain sehingga dapat meniru yang lebih baik tanpa menghilangkan yang sudah ada yang baik. Meskipun berbasis pondok pesantren yang materi agamanya lebih banyak namun dalam kenyataannya pendidikan di PM Al-Rifa’ie hanya menekankan pada segi kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik dan mengenyampingkan pendidikan afektif. Maka PM Al-Rifa’ie harus mulai menekankan pendidikan afektif ini. Sebab pendidikan afektif sangat sulit dibanding dengan kedua pendidikan lainnya. Kalaupun masih ada alternatif lain yang mungkin lebih baik dari apa yang telah disampaikan atau ditulis dalam skripsi ini, maka hal itu dapat dijadikan sebagai masukan atau tambahan agar skripsi ini terus berkembang dan tidak berhenti sampai di sini.

Kata Kunci : Pondok Modern, Profesionalisme Santri